Saturday, 01 November 2008
Sejak Indonesia berdiri, negeri ini tetap tegak berdiri meski terus terjadi guncangan. Mengapa Indonesia sampai saat ini tidak runtuh?
''Kita memiliki kekuatan yang tidak disadari yakni kebangsaan, keindonesiaan, ketahanan, karakter, sikap tak kenal menyerah yang bersumber dari budaya bangsa. Kekuatan yang tidak kentara ini atau invisible power sangat dahsyat, jika dibandingkan dengan sumber daya alam, sumber daya manusia, atau sumberdaya uang,'' kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menyampaikan orasi kebudayaan nasional dalam rangka Dies Natalis Ke-51 Undip di gedung Prof Soedarto SH, kemarin (30/10).
Pengertian budaya, kata SBY, tak sebatas pada pertunjukan ketoprak, pameran lukisan, dan sebagainya. Dia setuju dengan pendapat Rektor Undip Susilo Wibowo yang mengatakan bahwa makna kebudayaan saat ini mengalami reduksi karena masih diartikan sebagai seni dan budaya.
Menurut SBY, budaya juga mencakup nilai, sistem kepercayaan, gagasan, idealisme, cara pandang, mind set, iptek, dan perilaku sebuah bangsa terhadap masa depan. Karena itu SBY mendorong keinginan Undip untuk berada di garis depan dalam rangka pengembangan kebudayaan.
Sebab bangsa yang unggul adalah bangsa yang berkarakter kuat, karena karakter adalah akar dan sekaligus cerminan budaya sebuah bangsa. ''Tidak keliru jika Undip ingin berdiri di depan untuk terus meningkatkan, melestarikan, dan mengembangkan budaya bangsa.''
Demo Mahasiswa
Sementara itu, puluhan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip, Unnes, dan Polines berunjuk rasa di jalan yang akan dilalui SBY yakni Jl Prof Soedarto SH. Polisi membubarkan demo yang berlangsung di depan pintu gerbang Polines tersebut.
Pembubaran karena mahasiswa itu tidak mengantongi izin. Empat mahasiswa juga diamankan petugas untuk dimintai keterangan di Mapolresta Semarang Selatan. Mereka adalah korlap aksi Apung Widadi dan Haryudi yang masing-masing adalah mahasiswa FE dan FT Undip. Dua lainnya adalah Agi Suprayogi (mahasiswa FE Unnes) dan Yuda Prakasa (FISIP Undip).
Kapolresta Semarang Selatan AKBP Drs Guruh Ahmad Fadiyanto MH melalui Kasat Reskrim AKP Gandung Sardjito SH mengatakan, ”Mereka diamankan untuk dimintai keterangan, setelah diperiksa keempatnya telah kami lepaskan.”
Sesuai peraturan, kata dia, izin penyampaian pendapat harus dilakukan minimal 3 hari sebelum aksi digelar.
Namun mahasiswa baru mengajukan izin pada Rabu (29/10) siang. Hal itulah yang menjadikan polisi tidak mengizinkannya.
Unjuk rasa diwarnai kericuhan. Seorang petugas berseragam TNI dengan kasar mendorong beberapa mahasiswa yang berada di tepi jalan.
Tak hanya itu, seorang wartawan TV nasional, Endang Istanti (34) juga terkena imbasnya. Ketika sedang merekam tindakan yang dilakukan oknum tersebut, kerah bajunya sempat ditarik oleh anggota TNI tersebut.
Karena tetap merekam aksi itu, oknum tersebut kemudian menepis kamera yang dipegang Endang. Wartawati tersebut kemudian didorong dengan kasar hingga terjengkang. (H11,J12,H23,H21-46: SM Online)
Friday, November 28, 2008
duh...gusti
assalamualaikum wr.wb
duh gusti...
sengaja kutulis lembaran ini untuk Mu
karena ku takut doaku tak sampai bila terucap
karena besarnya noda dijiwaku
duh gusti...
tolong aku..
raba hatiku!
bergetarkah?
sentuh jantungku
berdetakkah?
ahh,,,semua berjalan
ya Gusti..aku tak menyadari
ada sesuatu dalam jiwaku, mengusik ketenanganku yang telah lama diam
Porak poranda...
mungkin Kahlil Gibran menyempatkan diri untuk merasakan
Pijar itu Gusti, ku maknai..
senyumnya duh..Gusti, entah apakah malaikat maut tega kala menjemput nyawanya..
iya, Gusti..
mentari menyapaku, menghangati sumsum beku yang lama mengeras..mencairkan kesendirian,menggantikan kepedihan
Gusti..Aku tahu hadiah ini tak lain darimu..
sku tsk mampu berucap syukur padaMu, mengeja Ke Maha SucianMu.
karena lidahku kelu, ku sadar bahkan ku tak pantas menjadi hambaMu
Gusti..
jika ini anugerah terahirmu, sampaikan padaku
sebelum Izrail mencabut paksa satu satunya milikku
^capungdewangga281108^
duh gusti...
sengaja kutulis lembaran ini untuk Mu
karena ku takut doaku tak sampai bila terucap
karena besarnya noda dijiwaku
duh gusti...
tolong aku..
raba hatiku!
bergetarkah?
sentuh jantungku
berdetakkah?
ahh,,,semua berjalan
ya Gusti..aku tak menyadari
ada sesuatu dalam jiwaku, mengusik ketenanganku yang telah lama diam
Porak poranda...
mungkin Kahlil Gibran menyempatkan diri untuk merasakan
Pijar itu Gusti, ku maknai..
senyumnya duh..Gusti, entah apakah malaikat maut tega kala menjemput nyawanya..
iya, Gusti..
mentari menyapaku, menghangati sumsum beku yang lama mengeras..mencairkan kesendirian,menggantikan kepedihan
Gusti..Aku tahu hadiah ini tak lain darimu..
sku tsk mampu berucap syukur padaMu, mengeja Ke Maha SucianMu.
karena lidahku kelu, ku sadar bahkan ku tak pantas menjadi hambaMu
Gusti..
jika ini anugerah terahirmu, sampaikan padaku
sebelum Izrail mencabut paksa satu satunya milikku
^capungdewangga281108^
Tuesday, October 28, 2008
SURAT TERBUKA UNTUK KAUM MISKIN JAWA TENGAH
Kawan kawan, sengaja kutulis monograf ini untuk kalian agar kalian mengerti dan mati memilih mati saja lewat bunuh diri. Maaf, mungkin ini terlihat kejam, tapi menurut ku lebih kejam ketika aku membiarkan dirimu berlarut dalam kepedihan dan penderitaan akibat penyakit yang telah lama kalian derita.
Kalian harus tahu, DPRD Jawa Tengah bukan lagi milik kalian lagi. Mereka kini sudah menjelma Dewan Penghianat Rakyat Daerah Jawa Tengah. Mereka melupakan kalian, manusia yang dulu mengangkat mereka dalam posisi terhormat. Hanya karena ingin menggenjot penerimaan PAD tahun 2009, mereka tega menerbitkan Peraturan No. 37/2008 yang isinya menyetujui kenaikan tarif rumah sakit hingga 400%. Dan kenaikan itu hanya untuk tarif kelas III, kelas untuk orang seperti kalian, manusia manusia miskin.
Mereka berlindung pada Jamkemnas, dan berharap semua baik baik saja. Padahal mereka tahu distribusi Jamkemnas tidak berjalan sesuai mestinya, masih banyak yang tidak sesuai sasaran.
Satu lagi kawan, mungkin DPRD Jawa Tengah memang sengaja membuat kalian cepat mati, karena jika kalian mati maka otomatis jumlah penduduk miskin yang ada di Jawa Tengah akan menurun. Membanggakan bukan.
Apakah kau berpikir kenapa hanya kelas tiga yang mengalami kenaikan gila gilaan itu, bukan kelas I (VVIP) dan kelas II (VIP) padahal kelas inilah yang terdiri dari konglomerat dan orang orang kaya yang ketika harus membayar biaya tagihan rumah sakit, mereka tentu mampu melaksanakan kewajibannya.
Namun…sayang…
Walau kalian begitu menderita menggelepar, ditindas, dan didzalimi hanya sedikit yang ber empati kepadamu.
Kami ? Mahasiswa? Ahh kalian bergurau. Kami terlalu sibuk meningkatkan kapasitas otak kami, bersenang senang dengan pacar pacar kami, atau sibuk membuat PKM dan LKTM yang kadang kami bingung untuk apa? Begitu menang ya sudah..
Demonstrasi ? sudahlah, kami lama meninggalkan perjuangan heroic itu, melelahkan, kami capek berteriak tampa didengar. Pun ketika kami sudah lulus dan butuh uang untuk membiayai anak istri, kami lebih memilih mengalah pada realitas daripada berpegang teguh pada kata idealita yang sering kami dengungkan semasa jadi mahasiswa.
Kawan kawan miskin Jawa Tengah, rajinlah menabung karena kelak kalian harus membayar cicilan tanah makammu sendiri yang amkin mahal dan tak terjangkau. Jika sempat, berdoalah, semoga Indonesia sudi melahirkan kan kembali generasi yang bersimpati pada kalian dan berjuang menghancurkan mental penindas, kapitalistik, individualistis serta feodalistis yang kini telah terlanjur mendarah daging di setiap aspek kehidupan Indonesia.
Semarang,10 oktober 2008
Capung dewangga
Kalian harus tahu, DPRD Jawa Tengah bukan lagi milik kalian lagi. Mereka kini sudah menjelma Dewan Penghianat Rakyat Daerah Jawa Tengah. Mereka melupakan kalian, manusia yang dulu mengangkat mereka dalam posisi terhormat. Hanya karena ingin menggenjot penerimaan PAD tahun 2009, mereka tega menerbitkan Peraturan No. 37/2008 yang isinya menyetujui kenaikan tarif rumah sakit hingga 400%. Dan kenaikan itu hanya untuk tarif kelas III, kelas untuk orang seperti kalian, manusia manusia miskin.
Mereka berlindung pada Jamkemnas, dan berharap semua baik baik saja. Padahal mereka tahu distribusi Jamkemnas tidak berjalan sesuai mestinya, masih banyak yang tidak sesuai sasaran.
Satu lagi kawan, mungkin DPRD Jawa Tengah memang sengaja membuat kalian cepat mati, karena jika kalian mati maka otomatis jumlah penduduk miskin yang ada di Jawa Tengah akan menurun. Membanggakan bukan.
Apakah kau berpikir kenapa hanya kelas tiga yang mengalami kenaikan gila gilaan itu, bukan kelas I (VVIP) dan kelas II (VIP) padahal kelas inilah yang terdiri dari konglomerat dan orang orang kaya yang ketika harus membayar biaya tagihan rumah sakit, mereka tentu mampu melaksanakan kewajibannya.
Namun…sayang…
Walau kalian begitu menderita menggelepar, ditindas, dan didzalimi hanya sedikit yang ber empati kepadamu.
Kami ? Mahasiswa? Ahh kalian bergurau. Kami terlalu sibuk meningkatkan kapasitas otak kami, bersenang senang dengan pacar pacar kami, atau sibuk membuat PKM dan LKTM yang kadang kami bingung untuk apa? Begitu menang ya sudah..
Demonstrasi ? sudahlah, kami lama meninggalkan perjuangan heroic itu, melelahkan, kami capek berteriak tampa didengar. Pun ketika kami sudah lulus dan butuh uang untuk membiayai anak istri, kami lebih memilih mengalah pada realitas daripada berpegang teguh pada kata idealita yang sering kami dengungkan semasa jadi mahasiswa.
Kawan kawan miskin Jawa Tengah, rajinlah menabung karena kelak kalian harus membayar cicilan tanah makammu sendiri yang amkin mahal dan tak terjangkau. Jika sempat, berdoalah, semoga Indonesia sudi melahirkan kan kembali generasi yang bersimpati pada kalian dan berjuang menghancurkan mental penindas, kapitalistik, individualistis serta feodalistis yang kini telah terlanjur mendarah daging di setiap aspek kehidupan Indonesia.
Semarang,10 oktober 2008
Capung dewangga
MENGOREKSI ADAM SMITH
“agar kekayaan tak hanya beredar ditangan orang- orang kaya saja”
(Adz Dzariat : 56)
Krisis global yang melanda Indonesia seminggu ini bagai bola salju yang menyapu jalanan kota.. membuat kotor jalanan yang telah berulang kali dicuci agar tak terlihat kotor. Kita andaikan saja kapitalisme adalah jalan yang terbentang itu lalu kenapa kita andaikan krisis sebagai bola salju yang kotor ? Karena disadari atau tidak, kapitalisme yang bersumber dari rahim Adam Smith, merupakan bibit narkotik yang menyenangkan pada awalnya namun kacau pada akhirnya.
Adam Smith menyatakan bahwa permasalahan utama ekonomi adalah adanya kelangkaan yang menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan manusia yang pada akhirnya manusia tidak memperoleh kemakmuran. Jalan keluar atas keadaan tersebut adalah mengupayakan pertumbuhan ekonomi yang setinggi tingginya. Oleh karena itu manusia harus menjadi “homo economicus” mahluk yang berorientasi materi karena menurut dia (Adam Smith) orientasi materi itulah yang akan membuat negara makmur, menyebabkan manusia bersikeras mencari kenikmatan. Intinya, kerakusan bukan penghalang kemajuan, tapi justru pangkal dari kemajuan. Individualisme pangkal kesejahteraan.
Peningkatan produksi dan pertumbuhan ekonomi menjadi harga mati untuk meningkatkan kemakmuran, sedangkan permasalahan distribusi akan terselesaikan ole Invisible hand “tangan tak terlihat ”. Mekanisme alami yang akan menciptakan keseimbangan penawaran dan permintaan. Semakin tinggi harga, semakin banyak penawaran, semakin sedikit permintaan. Semakin rendah harga, semakin sedikit penawaran, semakin banyak permintaan. Mekanisme ini diyakini menyebabkan harga selalu normal. Tidak terlalu mahal, tidak terlalu murah.
Namun, yang jadi pertanyaan kenapa teori kapitalisme yang begitu diagung agungkan Bapak Adam Smith tidak seindah teorinya ? Justru kesenjangan ekonomi, ketidakadilan, perbudakan, dan krisis global yang terjadi.
*****
Mazhab ekonomi klasik yang dimotori Adam Smith sangat memperhatikan pertumbuhan ekonomi,dimana mekanisme perhitungannya menggunakan analisis pendapatan rata rata. Contoh gampangnya, ada dua orang yang berbeda penghasilan. Yang satu memiliki penghasilan Rp. 99.000,-, dan yang lain hanya Rp. 1.000,-. Jika menggunakan analisis rata rata, maka kedua orang itu mempunyai penghasilan masing masing Rp. 50.000. Jadi tidak aneh jika kita melihat Amerika Serikat pada beberapa waktu belakang mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi namun pada saat yang bersamaan mengalami peningkatan jumlah rakyat miskin. Tidak ada asas pemerataan karena, sesuai dengan filosofi “homo economicus” , hanya orang yang mau berkerja keras saja yang patut mendapatkan kenikmatan, bagi yang tidak mau / tidak mampu berkerja memang sepantasnya miskin. Paradoks kemakmuran.
Selanjutnya, invisible hand yang dipercayai mampu menciptakan keseimbangan pasar, pada ekonomi modern menjelma menjadi apa yang dinamakan bunga. Ekonomi klasik warisan Adam Smith sangat menekankan bunga sebagai penyeimbang atas aliran modal dari masyarakat yang mengalir kepada pusat produksi (perusahaan). Untuk itulah harus ada bank.
Jika uang yang beredar terlalu banyak beredar pada masyarakat, maka akan terjadi inflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang. Bunga tinggi harus diterapkan untuk menyelesaikan persoalan ini. Ketika bunga tinggi, masyarakat akan menabung di bank dan pengusaha memilih untuk tidak meminjam dana ke bank. Ini akan menyebabkan perusahaan kecil akan mengurangi produksi dan harga kembali murah. Meminjam istilah Husein Matla, Kondisi ekonomi kembali seimbang dari terlalu basah menuju normal.
Namun, seiring berlangsungnya kebijakan ini akan terjadi anomaly lain, saat ekonomi pulih namun bunga tetap tinggi maka terjadi pengangguran akibat perusahaan gulung tikar kekurangan modal. Rakyat menjadi lemah daya belinya. Pasar kembali lesu. Saat ini dibutuhkan suku bunga rendah, agar banyak orang berani meminjam uang ke bank untuk membangun bisnis. Penganguran terserap dalam lini lini perusahaan, dan orang yang menabung tertarik untuk berbelanja, Perekonomian kembali normal.
Jadi dalam konsep ekonomi kapitalis ini, bunga mutlak diperlukan untuk menjaga keseimbangan pasar. Namun, dalam kenyataannya tidak semua pengusaha yang telah gulung tikar mampu bangkit kembali. Apalagi pengusaha kecil kecilan yang hanya memiliki modal kecil. Hal ini menyebabkan walau bunga rendah, tidak serta merta perusahaan berdiri dengan jumlah yang seimbang dengan jumlah pengangguran yang ada. Sedangkan perusahaan pemodal besar hanya mengalami penurunan produksi, tidak sampai menyebabkan perusahaan gulung tikar. Perusahaan perusahaan gurita inilah yang,meminjam istilah Prof. Amien Rais dalam buku “Selamatkan Indonesia”, menyandera negara. Memaksa negara untuk tunduk pada kemauannya.
Kondisi ini secara sangat ekplisit mengakui bahwa manusia bukanlah superman, namun memiliki sisi- sisi keterbatasan fisik,emosi, mental, pikiran yang dengan mudah diatur. Hukum penawaran dan permintaan dan adanya invisible hand merupakan hukum yang bertentangan dengan kenyataan hidup manusia.
***
Aristoteles secara tegas menolak sistem bunga ini, menurut beliau uang tidak mempunyai fungsi konsumsi melainkan hanya menjadi alat tukar. Karenanya orang disebut produktif jika mampu menghasilkan barang, memutar barang dan menjamin proses itu. Jadi ketika uang diperjualbelikan dalam arti pembungaan, akan terjadi penambahan jumlah uang secara terus menerus tanpa diikuti peningkatan jumlah barang.
Karena itu, para pialang saham dan juga para broker yang menyebabkan ketdakpastian ekonomi global dewasa ini, berdasar filsafat Aristoteles, hanyalah kumpulan orang orang tak berguna yang mengacaukan proses pemerataan ekonomi.
Dalam Ekonomi Islam, pemerataan adalah aspek yang sangat diperhatikan. Negara bertindak sebagai pelayan agar barang barang umum dapat mengalir ke umat secara merata. Karenanya, adanya perusahaan milik negara dalam segala barang menjadi keharusan untuk menjamin terlaksananya proses distribusi yang berdasar keadilan.
Selain itu, peraturan zakat, shadagah, larangan menyewakan tanah pertanian, kebolehan memiliki lahan kosong, larangan menimbun emas, penarikan pajak hanya terhadap orang kaya saja merupakan upaya agar terjadi keadaan sebagaimana tertulis dalam Al Quran “agar kekayaan tak hanya beredar ditangan orang- orang kaya saja” (Adz Dzariat : 56).
Walau memiliki filosofi yang hampir sama, Ekonomi Islam jauh melampaui mimpi Aristoteles karena upaya penjagaan uang agar tak dibisniskan tidak sekedar himbauan, melainkan dalam bentuk pengharaman dan membatasi bisnis pada barang sekunder, bukan barang yang mencakup hajat orang banyak.
Daftar bacaan :
Al Quran Karim
Fukuyama,Francis.Guncangan Besar.1991. Jakarta : Gramedia
Matla, Husein. Antara ekonomi budak dan ekonomi orang merdeka.2005.Semarang :BigBang Press
Rais, Amien. Selamatkan Indonesia. 2008.Jogjakarta : PPSK press
Thompson,Grahame. Globalisasi adalah Mitos. 2001.Jogjakarta : Obor Press
(Adz Dzariat : 56)
Krisis global yang melanda Indonesia seminggu ini bagai bola salju yang menyapu jalanan kota.. membuat kotor jalanan yang telah berulang kali dicuci agar tak terlihat kotor. Kita andaikan saja kapitalisme adalah jalan yang terbentang itu lalu kenapa kita andaikan krisis sebagai bola salju yang kotor ? Karena disadari atau tidak, kapitalisme yang bersumber dari rahim Adam Smith, merupakan bibit narkotik yang menyenangkan pada awalnya namun kacau pada akhirnya.
Adam Smith menyatakan bahwa permasalahan utama ekonomi adalah adanya kelangkaan yang menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan manusia yang pada akhirnya manusia tidak memperoleh kemakmuran. Jalan keluar atas keadaan tersebut adalah mengupayakan pertumbuhan ekonomi yang setinggi tingginya. Oleh karena itu manusia harus menjadi “homo economicus” mahluk yang berorientasi materi karena menurut dia (Adam Smith) orientasi materi itulah yang akan membuat negara makmur, menyebabkan manusia bersikeras mencari kenikmatan. Intinya, kerakusan bukan penghalang kemajuan, tapi justru pangkal dari kemajuan. Individualisme pangkal kesejahteraan.
Peningkatan produksi dan pertumbuhan ekonomi menjadi harga mati untuk meningkatkan kemakmuran, sedangkan permasalahan distribusi akan terselesaikan ole Invisible hand “tangan tak terlihat ”. Mekanisme alami yang akan menciptakan keseimbangan penawaran dan permintaan. Semakin tinggi harga, semakin banyak penawaran, semakin sedikit permintaan. Semakin rendah harga, semakin sedikit penawaran, semakin banyak permintaan. Mekanisme ini diyakini menyebabkan harga selalu normal. Tidak terlalu mahal, tidak terlalu murah.
Namun, yang jadi pertanyaan kenapa teori kapitalisme yang begitu diagung agungkan Bapak Adam Smith tidak seindah teorinya ? Justru kesenjangan ekonomi, ketidakadilan, perbudakan, dan krisis global yang terjadi.
*****
Mazhab ekonomi klasik yang dimotori Adam Smith sangat memperhatikan pertumbuhan ekonomi,dimana mekanisme perhitungannya menggunakan analisis pendapatan rata rata. Contoh gampangnya, ada dua orang yang berbeda penghasilan. Yang satu memiliki penghasilan Rp. 99.000,-, dan yang lain hanya Rp. 1.000,-. Jika menggunakan analisis rata rata, maka kedua orang itu mempunyai penghasilan masing masing Rp. 50.000. Jadi tidak aneh jika kita melihat Amerika Serikat pada beberapa waktu belakang mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi namun pada saat yang bersamaan mengalami peningkatan jumlah rakyat miskin. Tidak ada asas pemerataan karena, sesuai dengan filosofi “homo economicus” , hanya orang yang mau berkerja keras saja yang patut mendapatkan kenikmatan, bagi yang tidak mau / tidak mampu berkerja memang sepantasnya miskin. Paradoks kemakmuran.
Selanjutnya, invisible hand yang dipercayai mampu menciptakan keseimbangan pasar, pada ekonomi modern menjelma menjadi apa yang dinamakan bunga. Ekonomi klasik warisan Adam Smith sangat menekankan bunga sebagai penyeimbang atas aliran modal dari masyarakat yang mengalir kepada pusat produksi (perusahaan). Untuk itulah harus ada bank.
Jika uang yang beredar terlalu banyak beredar pada masyarakat, maka akan terjadi inflasi yang menyebabkan kenaikan harga barang. Bunga tinggi harus diterapkan untuk menyelesaikan persoalan ini. Ketika bunga tinggi, masyarakat akan menabung di bank dan pengusaha memilih untuk tidak meminjam dana ke bank. Ini akan menyebabkan perusahaan kecil akan mengurangi produksi dan harga kembali murah. Meminjam istilah Husein Matla, Kondisi ekonomi kembali seimbang dari terlalu basah menuju normal.
Namun, seiring berlangsungnya kebijakan ini akan terjadi anomaly lain, saat ekonomi pulih namun bunga tetap tinggi maka terjadi pengangguran akibat perusahaan gulung tikar kekurangan modal. Rakyat menjadi lemah daya belinya. Pasar kembali lesu. Saat ini dibutuhkan suku bunga rendah, agar banyak orang berani meminjam uang ke bank untuk membangun bisnis. Penganguran terserap dalam lini lini perusahaan, dan orang yang menabung tertarik untuk berbelanja, Perekonomian kembali normal.
Jadi dalam konsep ekonomi kapitalis ini, bunga mutlak diperlukan untuk menjaga keseimbangan pasar. Namun, dalam kenyataannya tidak semua pengusaha yang telah gulung tikar mampu bangkit kembali. Apalagi pengusaha kecil kecilan yang hanya memiliki modal kecil. Hal ini menyebabkan walau bunga rendah, tidak serta merta perusahaan berdiri dengan jumlah yang seimbang dengan jumlah pengangguran yang ada. Sedangkan perusahaan pemodal besar hanya mengalami penurunan produksi, tidak sampai menyebabkan perusahaan gulung tikar. Perusahaan perusahaan gurita inilah yang,meminjam istilah Prof. Amien Rais dalam buku “Selamatkan Indonesia”, menyandera negara. Memaksa negara untuk tunduk pada kemauannya.
Kondisi ini secara sangat ekplisit mengakui bahwa manusia bukanlah superman, namun memiliki sisi- sisi keterbatasan fisik,emosi, mental, pikiran yang dengan mudah diatur. Hukum penawaran dan permintaan dan adanya invisible hand merupakan hukum yang bertentangan dengan kenyataan hidup manusia.
***
Aristoteles secara tegas menolak sistem bunga ini, menurut beliau uang tidak mempunyai fungsi konsumsi melainkan hanya menjadi alat tukar. Karenanya orang disebut produktif jika mampu menghasilkan barang, memutar barang dan menjamin proses itu. Jadi ketika uang diperjualbelikan dalam arti pembungaan, akan terjadi penambahan jumlah uang secara terus menerus tanpa diikuti peningkatan jumlah barang.
Karena itu, para pialang saham dan juga para broker yang menyebabkan ketdakpastian ekonomi global dewasa ini, berdasar filsafat Aristoteles, hanyalah kumpulan orang orang tak berguna yang mengacaukan proses pemerataan ekonomi.
Dalam Ekonomi Islam, pemerataan adalah aspek yang sangat diperhatikan. Negara bertindak sebagai pelayan agar barang barang umum dapat mengalir ke umat secara merata. Karenanya, adanya perusahaan milik negara dalam segala barang menjadi keharusan untuk menjamin terlaksananya proses distribusi yang berdasar keadilan.
Selain itu, peraturan zakat, shadagah, larangan menyewakan tanah pertanian, kebolehan memiliki lahan kosong, larangan menimbun emas, penarikan pajak hanya terhadap orang kaya saja merupakan upaya agar terjadi keadaan sebagaimana tertulis dalam Al Quran “agar kekayaan tak hanya beredar ditangan orang- orang kaya saja” (Adz Dzariat : 56).
Walau memiliki filosofi yang hampir sama, Ekonomi Islam jauh melampaui mimpi Aristoteles karena upaya penjagaan uang agar tak dibisniskan tidak sekedar himbauan, melainkan dalam bentuk pengharaman dan membatasi bisnis pada barang sekunder, bukan barang yang mencakup hajat orang banyak.
Daftar bacaan :
Al Quran Karim
Fukuyama,Francis.Guncangan Besar.1991. Jakarta : Gramedia
Matla, Husein. Antara ekonomi budak dan ekonomi orang merdeka.2005.Semarang :BigBang Press
Rais, Amien. Selamatkan Indonesia. 2008.Jogjakarta : PPSK press
Thompson,Grahame. Globalisasi adalah Mitos. 2001.Jogjakarta : Obor Press
Subscribe to:
Posts (Atom)