Assalamualaikum. Wr.wb
di kuil gelap tengah malam,
titahkan aku berdiri dihadapanmu,
junjunganku,untuk bernyayi……..
Jauh.. tak tergapai. Aku tak tahu dimana mentari, salju, dan pelangi itu. Aku tak melihatnya. Aku kehilangan mereka. Hilang.
Pedih, hanya itu yang aku punya, menemani setiap canda tawa dan tangisku. Menatap dunia dengan bayang, kehadiran yang bukan kehadiran. Gamang. Lelah,dan sepi.
Lagu yang melintas dalam jiwa menambah luka….kisah yang terlalu indah…. Hingga aku tak mampu menuliskan kembali. Dengan tangan ku sendiri.
Selamat jalan, kekasih.
Selamat jalan, kepedihan ini kuharap mampu menemani perjalanan hatimu
Ketika hanyalah saat. Tergambar pada bukit bukit Loh,tempat musa melihat Tuhan. Hati hati kudus yang senantiasa kujaga hingga detik ini tak pernah berontak memaksa pergi. Tak pernah pergi..
Mimpi yang kan kupahat
hingga menjadi nisan membuncah
Melumut,mengeras
Aku
Tidak juga kau
Demi rusuk kiriku tergenggam
remuk redam
Biar aku membawa mentari
Biar aku memanggul salju
Biar aku menulis pelangi
Wassamualaikum Wr.Wb
Friday, October 17, 2008
pemuda islam : masa depan itu
kepada mujahid benteng kebenaran
selalu rindu akan lahir kejayaan
kepada pewaris tahta nan gemilang
menapak tegak menyosong masa depan……
Salah satu bait syair yang dinyanyikan Izzis itu kiranya cukup untuk menyadarkan kita , selaku pemuda Islam untuk terbangun dari tidur panjang. Segera menciptakan “the Sleep Giant” yang ada di jiwa jiwa Muslim. Sudah terlalu lama kita terlena keindahan ajaran ajaran selain Islam, tenggelam dalam pergaulan kebarat baratan yang ternoda kemaksiatan.
Dari bait diatas, jelas terlihat bahwa Islam belum dalam kondisi mapan. Masih belum berjaya, belum gemilang, dan masih terbelakang dari negara yahudi, kristus, bahkan Thionghoa. Palestina yang merupakan negeri suci para nabi sampai saat ini masih terinjak injak oleh Zionis Israel, Muslim Chechnya masih terbantai, dan bahkan muslim di Ambon, Indonesia, masih terus berperang demi terjaganya eksisitensi sebagai muslim. Padahal dalam Al Quran telah dinyatakaan bahwa Muslim adalah sebaik baiknya generasi. Itu berarti takdir kita bukan untuk menjadi pecundang, melainkan pemimpin yang mengatur dunia dengan konsep rahmatan lilallamin .
Bersatunya gerakan penghancur Islam seharusnya menjadikan kita kembali terjalin dalan indahnya persatuan Islam. Sebab kebaikan yang tak terstruktur pasti akan dengan mudah dihancurkan. Itu sudah sunattulah. Karena perjuangan ini bukalah perjuangan yang dengan mudah dilaksanakan, melainkan sungguh sangat berat, membutuhkan nafas panjang dan persaudaraan untuk bisa berenang melewati samudera terpanjang di jagat raya.
Islam bukannlah agama yang lemah lembut ketika terjadi kedzaliman, ketika penjajahan melukai jiwa jiwa manusia muslim. Islam adalah agama dengan semangat perjuangan nya lebih daripada singa yang kelaparan. Berani menembus berapapun tebalnya tembok kebatilan itu. Islam bukanlah agama yang ikhlas menerima hinaan. Islam adalah agama yang memberikan jalan Jihad untuk meraih kembali harga diri yang telah lama terinjak injak.
Manusia yang mengemban amanah untuk menjadi pewaris tahta nan gemilang, menjadi Agent of Islam tak lain dan tak bukan adalah pemuda Islam yang memiliki kemampuan diri sebagai sebagai Syaikh, guru, ayah, dan sebagai pemimpin. Posisi Syaikh dalam hal pendidikan ruhani; posisi guru dalam hal pengajaran; posisi ayah dalam hal ikatan hati; dan menjadi seorang pemimpin dalam aspek penentuan kebijakan politik maupun militer.
Ketika sifat sifat telah terhimpun dalam jiwa pemuda muslim maka salah satu prasyarat untuk mencapai kegemilangan Islam tercapai. Masih banyak sekali aspek lain yang harus segera diciptakan. Keikhlasan, keteguhan, dan kepercayaan adalah contoh aspek lain yang sejalan harus segera dibentuk. Pelan tapi terarah.
Allah berfirman,
“mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan ) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang orang kafir itu benci. Dialah yang mengutus Rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkan di atas berbagai agama, meskipun orang orang musrik benci” (As Shaf:8-9)
Mereka yang yakin akan mampu melumat Islam adalah para pemimpi. Seorang penghayal. Betapa hancurnya Islam akibat misi penghancuran yang mereka lakukan, Islam akan bangkit. Pasti. Sejalan terlahirnya pemuda pemuda Islam yang rela mengorabnkan jiwa dan harta mereka demi terlaksana jual beli dengan Allah. Surga lebih dicintai daripada dunia dengan segala keindahan.
Aku yang masih dalam perjalanan,
Capung Dewangga
selalu rindu akan lahir kejayaan
kepada pewaris tahta nan gemilang
menapak tegak menyosong masa depan……
Salah satu bait syair yang dinyanyikan Izzis itu kiranya cukup untuk menyadarkan kita , selaku pemuda Islam untuk terbangun dari tidur panjang. Segera menciptakan “the Sleep Giant” yang ada di jiwa jiwa Muslim. Sudah terlalu lama kita terlena keindahan ajaran ajaran selain Islam, tenggelam dalam pergaulan kebarat baratan yang ternoda kemaksiatan.
Dari bait diatas, jelas terlihat bahwa Islam belum dalam kondisi mapan. Masih belum berjaya, belum gemilang, dan masih terbelakang dari negara yahudi, kristus, bahkan Thionghoa. Palestina yang merupakan negeri suci para nabi sampai saat ini masih terinjak injak oleh Zionis Israel, Muslim Chechnya masih terbantai, dan bahkan muslim di Ambon, Indonesia, masih terus berperang demi terjaganya eksisitensi sebagai muslim. Padahal dalam Al Quran telah dinyatakaan bahwa Muslim adalah sebaik baiknya generasi. Itu berarti takdir kita bukan untuk menjadi pecundang, melainkan pemimpin yang mengatur dunia dengan konsep rahmatan lilallamin .
Bersatunya gerakan penghancur Islam seharusnya menjadikan kita kembali terjalin dalan indahnya persatuan Islam. Sebab kebaikan yang tak terstruktur pasti akan dengan mudah dihancurkan. Itu sudah sunattulah. Karena perjuangan ini bukalah perjuangan yang dengan mudah dilaksanakan, melainkan sungguh sangat berat, membutuhkan nafas panjang dan persaudaraan untuk bisa berenang melewati samudera terpanjang di jagat raya.
Islam bukannlah agama yang lemah lembut ketika terjadi kedzaliman, ketika penjajahan melukai jiwa jiwa manusia muslim. Islam adalah agama dengan semangat perjuangan nya lebih daripada singa yang kelaparan. Berani menembus berapapun tebalnya tembok kebatilan itu. Islam bukanlah agama yang ikhlas menerima hinaan. Islam adalah agama yang memberikan jalan Jihad untuk meraih kembali harga diri yang telah lama terinjak injak.
Manusia yang mengemban amanah untuk menjadi pewaris tahta nan gemilang, menjadi Agent of Islam tak lain dan tak bukan adalah pemuda Islam yang memiliki kemampuan diri sebagai sebagai Syaikh, guru, ayah, dan sebagai pemimpin. Posisi Syaikh dalam hal pendidikan ruhani; posisi guru dalam hal pengajaran; posisi ayah dalam hal ikatan hati; dan menjadi seorang pemimpin dalam aspek penentuan kebijakan politik maupun militer.
Ketika sifat sifat telah terhimpun dalam jiwa pemuda muslim maka salah satu prasyarat untuk mencapai kegemilangan Islam tercapai. Masih banyak sekali aspek lain yang harus segera diciptakan. Keikhlasan, keteguhan, dan kepercayaan adalah contoh aspek lain yang sejalan harus segera dibentuk. Pelan tapi terarah.
Allah berfirman,
“mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan ) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang orang kafir itu benci. Dialah yang mengutus Rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkan di atas berbagai agama, meskipun orang orang musrik benci” (As Shaf:8-9)
Mereka yang yakin akan mampu melumat Islam adalah para pemimpi. Seorang penghayal. Betapa hancurnya Islam akibat misi penghancuran yang mereka lakukan, Islam akan bangkit. Pasti. Sejalan terlahirnya pemuda pemuda Islam yang rela mengorabnkan jiwa dan harta mereka demi terlaksana jual beli dengan Allah. Surga lebih dicintai daripada dunia dengan segala keindahan.
Aku yang masih dalam perjalanan,
Capung Dewangga
LUKA BERNAMA INDONESIA
Kehidupan selalu berulang, sejarah tak kan pernah berubah. Bagai siklus yang pada akhirnya kembali pada tempat semula. Kejayaan Indonesia yang dulu pernah teraih, seakan punah dan berubah menjadi sejarah penindasan dan penjajahan. Sama seperti jaman Jepang menguasai pulau pulau yang pada akhirnya bersatu menjadi Indonesia.
Indonesia adalah negara yang berdaulat, negara yang besar, negara yang memiliki taring yang tajam untuk mengunyah negara negara yang melencehkan martabat Indonesia. Aku belum menemukan negara yang seberuntung Indonesia, memiliki semuanya, tanah pertanian, barang tambang, minyak, laut, bahkan udara yang bersih pun begitu melimpah di Indonesia. Tapi, itu dulu.
Jika kita meminjam istilah Prof. DR. Amien Rais, Indonesia saat ini adalah manusia yang mengalami penyakit kronis. Jika tidak ditanggulangi dengan cepat dan tepat maka terpaksa diamputasi. Sejalan dengan itu, jelas kita harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang kondisi Indonesia saat ini Bagaimana mungkin seorang dokter bisa menyembuhkan penyakit tanpa kita tahu bagaimana struktur tubuh pasien tersebut.. Bukannya meremehkan, tapi bukannya rahasia bahwa sudah banyak generasi muda sekarang yang tidak hapal sila ke 4 dari Pancasila, belum tahu berapa jumlah propinsi di Indonesia saat ini, bahkan tidak tahu dari mana kata “ Indonesia “ itu didapat.
Saat ini Indonesia mengalami proses “pencucian otak”. Dimana kita, Indonesia, yang seharusnya bangsa yang besar dipaksa tersugesti untuk mengakui bahwa Indonesia adalah bangsa yang harus mengemis kepada bangsa lain untuk bertahan hidup. Sejarah sudah membuktikan hal tersebut. Tesis Fukuyama yang menyatakan bahwa Kapitalisme merupakan akhir dari peradapan mampu menyihir negara negara berkembang untuk tunduk kepada Amerika yang pro kapitalisme. Padahal tesis tersebut hanyalah tesis yang sama sekali tidak ada pembuktiannya. Hanya sebagai alat pembenaran bagi Negara kapitalis untuk menyebarkan visi visi kekuasannya.
Penghancuran melalui ekonomi sudah terlalu kasat mata untuk bisa dilihat. Privatisasi yang digembor gembor kan sebagai alternative penyelesaian hutang luar negeri ternyata menjadi morphine yang berbahaya bagi kelangsungan hidup Indonesia. Efektif digunakan sebagai penghilang rasa sakit, namun kelanjutannya mengakibatkan peningkatan dosis yang berujung pada DO atau pun kematian. Dalam seminar nasional yang diadakan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang tentang strategi peningkatan kesejahteraan, seorang pembicara yang bertitel Doktor dari UI menyatakan bahwa impor beras merupakah solusi mensejahterakan rakyat petani dengan alasan 80 % petani Indonesia merupakan petani Gurem yang harus membeli beras untuk konsumsinya. Sungguh aneh pendapat ini, ketika impor beras terus dilakukan untuk mengurangi harga beras dalam negeri yang tinggi maka beras beras yang dihasilkan oleh petani petani gurem di Indonesia menjadi tidak laku. Jika tidak laku, ngapain menanam padi, lebih baik beli beras impor saja. Wong lebih murah. Jika sudah terjadi hal tersebut kita hanya tunggu waktu saja untuk melihat Indonesia, negara yang pernah swasembada pangan, menjadi pengimpor beras no. 1 di dunia. Tragis.
Bahkan, Protokol Kyoto yang terlihat sebagai gerakan moral penyelamat global Warming dimata penulis hanyalah proyek negara negara besar untuk menancapkan ideology industrinya. Semuanya menjadi jelas ketika kita membuka kembali Tesis Huntington “ Perang Peradapan”. Dalam tesis tersebut dinyatakan bahwa bukan politik yang menjadi sumber peperangan dunia akhir, melainkan kebudayaan. Contoh kebudayaan yang pasti yang akan bertikai adalah kapitalisme dan kebudayaan China. Menarik. Dari jaman dahulu kita tahu bahwa lawan terberat dari kapitalisme adalah komunisme, sosialisme yang notabene sudah menjadi salah satu perangkat perekonomian China.
Negara besar yang tidak meratifikasi Protokol Kyoto adalah Amerika Serikat. Padahal Negara tersebut adalah salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. Moment ini dimanfaatkan China sebagai alat penghimpun kekuatan negera berkembang termasuk Indonesia untuk mendukung gerakan China, walaupun tidak kasat mata. Opini yang harus terbangun adalah negara Negara kapitalis adalah Negara yang tidak memiliki Pollutan Responsibilty, tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati ditengah tengah. Mungkin peribahasa ini cocok untuk kondisi sekarang. Namun sayang, dalam hal ini Indonesia bukanlah Gajah yang bertarung melainkan hanya pelanduk yang bakal jadi korban bagi siapa saja yang menang baik kapitalisme Amerika, ataupun sosialis komunis China.
Hal ini dikarenakan kita belum memiliki keberanian untuk menjadi mandiri, belum bangga dengan sifat kegotongroyongannya dan kewelas asihannya. Kita sudah terlanjur “tercuci Otak “ oleh globalisme Prof. Mubyarto menyatakan dengan sejelas jelasnya bahwa system perekonomian yang paling cocok untuk Indonesia adalah perpaduan adalah antara Sosialisme, Kapitalisme, dan religiusitas yang kesemuanya terangkum di badan usaha Koperasi.
Sekarang sudah tak sepantasnya kita terlena dengan euphoria jaman keemasan masa lalu. Saat ini adalah masa pergerakan, pembangunan, dan pemerataan. Koperasi yang memiliki kedudukan sangat kuat dalam konstitusi Indonesia sudah seharusnya mendapat perhatian lebih besar lagi. Pemerintah yang memiliki tanggung jawab besar dalam pengembangan koperasi harus tahu hal ini. Bahwa semangat ketimuran dan profesinalisme kerja adalah salah satu unsur obat yang mampu menyembuhkan penyakit kronis yang hinggap si tubuh pertiwi Indonesia.
Semoga….
Aku yang masih dalam perjalanan,
Capung Dewangga
Indonesia adalah negara yang berdaulat, negara yang besar, negara yang memiliki taring yang tajam untuk mengunyah negara negara yang melencehkan martabat Indonesia. Aku belum menemukan negara yang seberuntung Indonesia, memiliki semuanya, tanah pertanian, barang tambang, minyak, laut, bahkan udara yang bersih pun begitu melimpah di Indonesia. Tapi, itu dulu.
Jika kita meminjam istilah Prof. DR. Amien Rais, Indonesia saat ini adalah manusia yang mengalami penyakit kronis. Jika tidak ditanggulangi dengan cepat dan tepat maka terpaksa diamputasi. Sejalan dengan itu, jelas kita harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang kondisi Indonesia saat ini Bagaimana mungkin seorang dokter bisa menyembuhkan penyakit tanpa kita tahu bagaimana struktur tubuh pasien tersebut.. Bukannya meremehkan, tapi bukannya rahasia bahwa sudah banyak generasi muda sekarang yang tidak hapal sila ke 4 dari Pancasila, belum tahu berapa jumlah propinsi di Indonesia saat ini, bahkan tidak tahu dari mana kata “ Indonesia “ itu didapat.
Saat ini Indonesia mengalami proses “pencucian otak”. Dimana kita, Indonesia, yang seharusnya bangsa yang besar dipaksa tersugesti untuk mengakui bahwa Indonesia adalah bangsa yang harus mengemis kepada bangsa lain untuk bertahan hidup. Sejarah sudah membuktikan hal tersebut. Tesis Fukuyama yang menyatakan bahwa Kapitalisme merupakan akhir dari peradapan mampu menyihir negara negara berkembang untuk tunduk kepada Amerika yang pro kapitalisme. Padahal tesis tersebut hanyalah tesis yang sama sekali tidak ada pembuktiannya. Hanya sebagai alat pembenaran bagi Negara kapitalis untuk menyebarkan visi visi kekuasannya.
Penghancuran melalui ekonomi sudah terlalu kasat mata untuk bisa dilihat. Privatisasi yang digembor gembor kan sebagai alternative penyelesaian hutang luar negeri ternyata menjadi morphine yang berbahaya bagi kelangsungan hidup Indonesia. Efektif digunakan sebagai penghilang rasa sakit, namun kelanjutannya mengakibatkan peningkatan dosis yang berujung pada DO atau pun kematian. Dalam seminar nasional yang diadakan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang tentang strategi peningkatan kesejahteraan, seorang pembicara yang bertitel Doktor dari UI menyatakan bahwa impor beras merupakah solusi mensejahterakan rakyat petani dengan alasan 80 % petani Indonesia merupakan petani Gurem yang harus membeli beras untuk konsumsinya. Sungguh aneh pendapat ini, ketika impor beras terus dilakukan untuk mengurangi harga beras dalam negeri yang tinggi maka beras beras yang dihasilkan oleh petani petani gurem di Indonesia menjadi tidak laku. Jika tidak laku, ngapain menanam padi, lebih baik beli beras impor saja. Wong lebih murah. Jika sudah terjadi hal tersebut kita hanya tunggu waktu saja untuk melihat Indonesia, negara yang pernah swasembada pangan, menjadi pengimpor beras no. 1 di dunia. Tragis.
Bahkan, Protokol Kyoto yang terlihat sebagai gerakan moral penyelamat global Warming dimata penulis hanyalah proyek negara negara besar untuk menancapkan ideology industrinya. Semuanya menjadi jelas ketika kita membuka kembali Tesis Huntington “ Perang Peradapan”. Dalam tesis tersebut dinyatakan bahwa bukan politik yang menjadi sumber peperangan dunia akhir, melainkan kebudayaan. Contoh kebudayaan yang pasti yang akan bertikai adalah kapitalisme dan kebudayaan China. Menarik. Dari jaman dahulu kita tahu bahwa lawan terberat dari kapitalisme adalah komunisme, sosialisme yang notabene sudah menjadi salah satu perangkat perekonomian China.
Negara besar yang tidak meratifikasi Protokol Kyoto adalah Amerika Serikat. Padahal Negara tersebut adalah salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. Moment ini dimanfaatkan China sebagai alat penghimpun kekuatan negera berkembang termasuk Indonesia untuk mendukung gerakan China, walaupun tidak kasat mata. Opini yang harus terbangun adalah negara Negara kapitalis adalah Negara yang tidak memiliki Pollutan Responsibilty, tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati ditengah tengah. Mungkin peribahasa ini cocok untuk kondisi sekarang. Namun sayang, dalam hal ini Indonesia bukanlah Gajah yang bertarung melainkan hanya pelanduk yang bakal jadi korban bagi siapa saja yang menang baik kapitalisme Amerika, ataupun sosialis komunis China.
Hal ini dikarenakan kita belum memiliki keberanian untuk menjadi mandiri, belum bangga dengan sifat kegotongroyongannya dan kewelas asihannya. Kita sudah terlanjur “tercuci Otak “ oleh globalisme Prof. Mubyarto menyatakan dengan sejelas jelasnya bahwa system perekonomian yang paling cocok untuk Indonesia adalah perpaduan adalah antara Sosialisme, Kapitalisme, dan religiusitas yang kesemuanya terangkum di badan usaha Koperasi.
Sekarang sudah tak sepantasnya kita terlena dengan euphoria jaman keemasan masa lalu. Saat ini adalah masa pergerakan, pembangunan, dan pemerataan. Koperasi yang memiliki kedudukan sangat kuat dalam konstitusi Indonesia sudah seharusnya mendapat perhatian lebih besar lagi. Pemerintah yang memiliki tanggung jawab besar dalam pengembangan koperasi harus tahu hal ini. Bahwa semangat ketimuran dan profesinalisme kerja adalah salah satu unsur obat yang mampu menyembuhkan penyakit kronis yang hinggap si tubuh pertiwi Indonesia.
Semoga….
Aku yang masih dalam perjalanan,
Capung Dewangga
Catatan akhir tahun……
Lelah menghampiriku ketika buku “Konspirasi dibalik Lumpur Lapindo” habis kubaca. Ternyata benar apa yang menjadi dugaan ku selama ini. Ada gurita konglomerat yang bertanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan ini. Tak lain Abu Rizal Bakrie dan Panigoro. Pemilik saham di Lapindo Brantas Inc. Akibat tidak adanya instruksi pengamanan silinder penembus bawah tanah, terjadilah Blow Out berupa lumpur panas yang sampai saat ini belum jelas penanganannya.
Aku marah ketika media kini tak lagi menyorot kejahatan kemanusiaan di Sidoarjo tersebut. Sigmund Freud berkata Memang kita tak bisa percaya kecuali pada diri sendiri. Media dengan mudah dijual demi tercapainya omzet penjualan. Masyarakat terdidik ? itu prioritas ke 24. Membosankan. Aku pernah bertemu dengan salah satu wartawan Jakarta saat Deklarasi Mahasiswa Anti Korupsi di Semarang. Dengan gamblangnya dia berujar bahwa terdapat koran besar di Jateng yang di setir pemerintah dan pengusaha di Jateng, yang dengan mudah dapat di design bagaimana berita yang harus keluar. Prinsip yang harus dipegang adalah Asal Bapak Senang. Satir???? Memang kata itu yang pantas di letakkan pada media Indonesia {walau tak Semuanya, aku yakin)
Aku tak tau bagaimana muka Indonesia 20 tahun ke depan? Aku takut jika masih hidup di Indonesia, karena aku tak tahu harus bagaimana menyelamatkan Indonesia ku ini. Jika Pramudya Ananta Toer, malu jadi orang Indonesia. Maka aku berbeda, aku begitu mencintai hingga dengan sorot mata kedepan kuakui bahwa borok itu memang punya Indonesia. Yahh, memang itu Borok negeriku yang harus segera di sembuhkan sebelum amputasi terpaksa di lakukan.
Lagi, Kalimantan yang merupakan surga hijau telah lama terinjak oleh investor asing akibat begitu murah hatinya pemerintah Indonesia menyerahkan mahkotanya, hingga seorang teman dari Banjarmasin dengan sedih mengatakan bahwa Kalimantan adalah kekasih yang kehilangan keperawanannya. Dia memutuskan membentuk Gerakan Borneo Merdeka demi terjaganya alam dan kekayaan Pulau Kalimantan. Gerakan Makar ? mungkin iya. Tapi dalam pandangannya lebih baik merdeka daripada hidup dalam jajahan Negara Indonesia. Dan aku? Bahkan aku baru sadar bahwa Indonesia memang memiliki Borneo, Papua, dan Sipadan Ligitan (tetap milik Indonesia). Entah dimana saat itu. Mungkin aku masih tertidur, ileren. Tak tau apa apa.
Kawan kawan mahasiswa, nasionalisme tidak hanya kata ataupun ideologi tapi lebih dari itu. Nasionalisme adalah kecintaan, kerelaan, kekuatan, pengabdian dalam arti sesungguhnya. Bukan makna puisi yang kadang terintreprestasi berbeda.
Kalau aku boleh berharap, aku ingin mahasiswa kembali menjadi kekasih rakyat yang mengetahui bagaimana susahnya hidup dibalik gubuk gubuk reot, samping rel, atau lelahnya menapaki aspal panas di siang hari. Lihat, duniamu bukan hanya di gedung gedung mewah, ada AC minimal kipas angin yang mampu menidurkan matamu. Bukan. Hidupmu tak Cuma disitu. Tatap luar kampusmu. Disitu tugasmu.
Aku tak mau mengingat lagi tahun itu, tahun dimana mahasiswa sangat buas ketika mengoyak tirani Orde Baru. Sungguh, tak mau lagi aku mengingatnya. Sebab aku begitu malu dengan pahlawan pahlawan yang merelakan dirinya demi reformasi. Maafkan kami Elang, kami sudah begitu lama tertidur. Menikmati. Keindahan di kampus ini.
Kawan, tugasmu membangun kemandirian bangsa, makan habis bukumu hingga kau mampu mengerti bahwa memang ada jalan untuk keluar dari kebobrokan bangsa ini. Sejalan dengan itu lindungi bangsa ini, saat ini, semampumu. Dengan LKTM mu, dengan Tulisan Tanganmu, Longmarch mu dan dengan LSM yang telah kau dirikan. Bukan saatnya lagi kita saling menyalahkan, bukan saatnya lagi menyatakan diri yang paling benar. Setiap manusia dibebani sebatas kemampuannya. Itulah tanggung jawab kita pikul. Bersama, kita lantangkan suara hati nurani. Kita bersihkan luka luka Indonesia.
maju melawan atau diam tertindas, sebab mundur dari perjuangan adalah satu penghianatan.
Aku yang masih dalam perjalanan,
Capung Dewangga.
Aku marah ketika media kini tak lagi menyorot kejahatan kemanusiaan di Sidoarjo tersebut. Sigmund Freud berkata Memang kita tak bisa percaya kecuali pada diri sendiri. Media dengan mudah dijual demi tercapainya omzet penjualan. Masyarakat terdidik ? itu prioritas ke 24. Membosankan. Aku pernah bertemu dengan salah satu wartawan Jakarta saat Deklarasi Mahasiswa Anti Korupsi di Semarang. Dengan gamblangnya dia berujar bahwa terdapat koran besar di Jateng yang di setir pemerintah dan pengusaha di Jateng, yang dengan mudah dapat di design bagaimana berita yang harus keluar. Prinsip yang harus dipegang adalah Asal Bapak Senang. Satir???? Memang kata itu yang pantas di letakkan pada media Indonesia {walau tak Semuanya, aku yakin)
Aku tak tau bagaimana muka Indonesia 20 tahun ke depan? Aku takut jika masih hidup di Indonesia, karena aku tak tahu harus bagaimana menyelamatkan Indonesia ku ini. Jika Pramudya Ananta Toer, malu jadi orang Indonesia. Maka aku berbeda, aku begitu mencintai hingga dengan sorot mata kedepan kuakui bahwa borok itu memang punya Indonesia. Yahh, memang itu Borok negeriku yang harus segera di sembuhkan sebelum amputasi terpaksa di lakukan.
Lagi, Kalimantan yang merupakan surga hijau telah lama terinjak oleh investor asing akibat begitu murah hatinya pemerintah Indonesia menyerahkan mahkotanya, hingga seorang teman dari Banjarmasin dengan sedih mengatakan bahwa Kalimantan adalah kekasih yang kehilangan keperawanannya. Dia memutuskan membentuk Gerakan Borneo Merdeka demi terjaganya alam dan kekayaan Pulau Kalimantan. Gerakan Makar ? mungkin iya. Tapi dalam pandangannya lebih baik merdeka daripada hidup dalam jajahan Negara Indonesia. Dan aku? Bahkan aku baru sadar bahwa Indonesia memang memiliki Borneo, Papua, dan Sipadan Ligitan (tetap milik Indonesia). Entah dimana saat itu. Mungkin aku masih tertidur, ileren. Tak tau apa apa.
Kawan kawan mahasiswa, nasionalisme tidak hanya kata ataupun ideologi tapi lebih dari itu. Nasionalisme adalah kecintaan, kerelaan, kekuatan, pengabdian dalam arti sesungguhnya. Bukan makna puisi yang kadang terintreprestasi berbeda.
Kalau aku boleh berharap, aku ingin mahasiswa kembali menjadi kekasih rakyat yang mengetahui bagaimana susahnya hidup dibalik gubuk gubuk reot, samping rel, atau lelahnya menapaki aspal panas di siang hari. Lihat, duniamu bukan hanya di gedung gedung mewah, ada AC minimal kipas angin yang mampu menidurkan matamu. Bukan. Hidupmu tak Cuma disitu. Tatap luar kampusmu. Disitu tugasmu.
Aku tak mau mengingat lagi tahun itu, tahun dimana mahasiswa sangat buas ketika mengoyak tirani Orde Baru. Sungguh, tak mau lagi aku mengingatnya. Sebab aku begitu malu dengan pahlawan pahlawan yang merelakan dirinya demi reformasi. Maafkan kami Elang, kami sudah begitu lama tertidur. Menikmati. Keindahan di kampus ini.
Kawan, tugasmu membangun kemandirian bangsa, makan habis bukumu hingga kau mampu mengerti bahwa memang ada jalan untuk keluar dari kebobrokan bangsa ini. Sejalan dengan itu lindungi bangsa ini, saat ini, semampumu. Dengan LKTM mu, dengan Tulisan Tanganmu, Longmarch mu dan dengan LSM yang telah kau dirikan. Bukan saatnya lagi kita saling menyalahkan, bukan saatnya lagi menyatakan diri yang paling benar. Setiap manusia dibebani sebatas kemampuannya. Itulah tanggung jawab kita pikul. Bersama, kita lantangkan suara hati nurani. Kita bersihkan luka luka Indonesia.
maju melawan atau diam tertindas, sebab mundur dari perjuangan adalah satu penghianatan.
Aku yang masih dalam perjalanan,
Capung Dewangga.
Subscribe to:
Posts (Atom)